Flag Counter

free counters

This is Mutiara Timur

These trains serve corridor mutiaratimur Gubeng Surabaya - Banyuwangi By Business Class

Taksaka

These trains serve corridor Takshaka Tugu Yogyakarta - Jakarta With First Class Executive

Gaya Baru Malam Selatan

These trains serve corridor Gaya Baru Malam Selatan Gubeng Surabaya - Jakarta Pasar Senen With a series of 10 trains of economic

Argo Bromo Anggrek

long-distance trains that serve corridor pasarturi Surabaya - Gambir With eight executive class + 1 train carriage + 1 train Eating Plant

Argo Wilis

Trains which serve corridor Gubeng Surabaya - Bandung, Bandung Parent By Dipo this train carries a 8 railway executive + 1 diner train + 1 generator

Turangga

Trains which serve corridor Gubeng Surabaya - Bandung, Sidotopo Parent By Dipo this train carries a 8 railway executive + 1 diner train + 1 generator

Tampilkan postingan dengan label Daop II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daop II. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

Stasiun Tasikmalaya



In English Language

Tasikmalaya Station (code: TSM) is the main station located in the city of Tasikmalaya. +349 Altitude above sea level stations are located at Station # 1 Village Panglayungan road. The station is under the auspices of Tasikmalaya PT.Kereta Api Indonesia Regional Operations 2 Bandung is one of the Stations of the Regional Operations 2 Bandung other major stations are Stations and Station Kiaracondong Bandung. In the 1990's the train that stops at the train station is only economics course, but after Tasikmalaya became administrative town in the early 2000s, this town became a city most advanced and fastest growing in the East Priangan. So since it's executive and business class train stopped at this station for raising and lowering passengers.

The train that stops at the station Tasikmalaya include:

* Executive and Business:

1. Argo Wilis: to Bandung and Surabaya Gubeng
2. Turangga: to Bandung and Surabaya Gubeng
3. Lodaya (morning and evening) to Bandung and Solo Racing
4. Southern Pearl: to Bandung and Surabaya Gubeng
5. Malabar: to Bandung and Malang

* Economy

1. Pasundan: to Bandung and Surabaya Gubeng Kiaracondong
2. Serayu: to Jakarta City and Kroya
3. South Kutojaya: to Bandung Kiaracondong and Kutoarjo
4. Kahuripan: to Padalarang and Kediri



In Indonesian

Stasiun Tasikmalaya (kode : TSM) adalah stasiun utama yang berada di Kota Tasikmalaya. Stasiun yang berketinggian +349 dpl terletak di jalan Stasiun No.1 Kelurahan Panglayungan. Stasiun Tasikmalaya berada di bawah naungan PT.Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 2 Bandung yang merupakan salah satu Stasiun Besar di Daerah Operasi 2 Bandung stasiun besar lainnya adalah Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Pada tahun 1990-an kereta yang berhenti di stasiun ini hanya kereta ekonomi saja, tapi setelah Tasikmalaya menjadi kota administratif pada awal tahun 2000-an, kota ini menjadi kota termaju dan berkembang paling pesat di Priangan Timur. Maka sejak itu kereta kelas eksekutif dan bisnis pun berhenti di stasiun ini untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Kereta yang berhenti di Stasiun Tasikmalaya diantaranya :

* Eksekutif dan Bisnis :

1. Argo Wilis: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
2. Turangga: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
3. Lodaya (pagi dan malam): ke Bandung dan Solo Balapan
4. Mutiara Selatan: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
5. Malabar: ke Bandung dan Malang

* Ekonomi

1. Pasundan: ke Bandung Kiaracondong dan Surabaya Gubeng
2. Serayu: ke Jakarta Kota dan Kroya
3. Kutojaya Selatan: ke Bandung Kiaracondong dan Kutoarjo
4. Kahuripan: ke Padalarang dan Kediri


Stasiun Kiaracondong




In English Language

Kiaracondong Station is the second major station in Bandung. Located at the boundary between the Village and Village Babakansari Kebunjayanti, Kiaracondong Station train departure only served in economy class. Formerly the entire train, ranging from executive class to economy, made ​​from the Bandung station. Increased scheduled departure at station Bandung is the reason all economy-class train departure was moved to this station.

Since December 1, 2008, KA Lodaya Solo goals and objectives of South Pearl KA Surabaya also stop at this station for raising and lowering passengers either on the way to and from Bandung. This policy makes Kiaracondong Station as a point decline in both passenger and raising such Jatinegara station in Jakarta.

train

* Malabar: to Bandung and Malang
* Lodaya: to Bandung and Solo Racing
* South Pearl: to Bandung and Surabaya Gubeng
* Kahuripan: to Padalarang and Kediri
* Serayu: to Jakarta City and Kroya
* Local Passenger Trains: to Cibatu and Purwakarta
* Baraya Geulis: to Cicalengka (only at 4:54 & 7:29 only)
* South Kutojaya: to Kutoarjo
* Pasundan: Surabaya Gubeng
* Rencang Geulis: Station Cicalengka **

Note: ** if you cross the railway from the east



In Indonesian

Stasiun Kiaracondong adalah stasiun besar kedua di Kota Bandung. Terletak di batas antara Kelurahan Babakansari dan Kelurahan Kebunjayanti, Stasiun Kiaracondong hanya melayani keberangkatan kereta api kelas ekonomi. Dahulu seluruh kereta api, mulai dari kelas Eksekutif sampai Ekonomi, dilakukan dari Stasiun Bandung. Peningkatan jadwal pemberangkatan di Stasiun Bandung menjadi alasan semua keberangkatan kereta api kelas ekonomi dipindahkan ke stasiun ini.

Sejak tanggal 1 Desember 2008, KA Lodaya tujuan Solo dan KA Mutiara Selatan tujuan Surabaya juga berhenti di stasiun ini untuk menaikkan dan menurunkan penumpang baik dalam perjalanan dari maupun ke Bandung. Kebijakan ini menjadikan Stasiun Kiaracondong sebagai titik penurunan dan penaikan penumpang kedua seperti Stasiun Jatinegara di Jakarta.

Kereta api

* Malabar: ke Bandung dan Malang
* Lodaya: ke Bandung dan Solo Balapan
* Mutiara Selatan: ke Bandung dan Surabaya Gubeng
* Kahuripan: ke Padalarang dan Kediri
* Serayu: ke Jakarta Kota dan Kroya
* Kereta api Penumpang Lokal: ke Cibatu dan Purwakarta
* Baraya Geulis: ke Cicalengka (hanya jam 04.54 & 7.29 saja)
* Kutojaya Selatan: ke Kutoarjo
* Pasundan: ke Surabaya Gubeng
* Rencang Geulis: ke Stasiun Cicalengka**

Catatan: ** jika silang dengan KA dari arah timur

Stasiun Bandung



In English Language

Bandung station or Station Hall (code: BD), is the main railway station in Bandung.
Station altitude +709 m above sea level into the boundary between the Village and Kebonjeruk Pasirkaliki. Station Hall previously had only one station, after renovation by the City Hall station Bandung is now divided into two parts although still united.

The station known as the Hall itself other than the railway station in the city of Bandung, he was also famous as the city transportation terminals. Caused by a number of leading public transportation Hall Station then automatically he became famous in the city with the title of "public transportation terminal" in addition to the train station.

Hall Station is located at Jalan Kebon Kawung.

In the book face Bandoeng Doeloe Tempo (1984) essay Haryoto Kunto, the initial idea of ​​the construction of stations associated with the opening of plantations Bandung in Bandung around 1870. The station was inaugurated on May 17, 1884, when the reign of Regents Koesoemadilaga and at the same time also opened railroads Batavia-Bandung via Bogor and Cianjur. In those days, the landlord estates (Preangerplanters) using the railroads to send the plantation to Batavia faster. To accommodate and store the results of estates that will be transported by train, built warehouses stockpiling goods in several locations near the station Bandung, Jalan Cibangkong, Cikuda-Pateuh Road, the area Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, and Andir. Shortly after the inauguration of the path Bandung-Surabaya (November 1, 1894), the owners of sugar mills and plantations of Central Java and East Java (Suikerplanters) rented railroad cars to Bandung to attend the Congress Entrepreneur of the first sugar plantation. The Congress is a meeting of the Executive Board of the Sugar Association Entrepreneurs (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) in Surabaya in 1896. [1]

In 1909, architect FJA Cousin expand the old building Bandung station, one of which is marked with ornate stained glass in the southern part of the platform-style Art Deco. In 1918, this station connects Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali, then a year later built a cross-Bandung-Citeureup Majalaya and built on the same track line-Banjaran Citeureup-Canning (1921). For the path to the tea plantations, in 1918, built into Kopo Bandung path and then to Ciwidey (March 1921). [1]

At the inauguration of Bandung station, Dutch newspaper at that time, Javabode, wrote that the surrounding communities to celebrate for 2 consecutive days. Formerly, the train is a means of transportation of oil production Bandung, such as quinine, tea, coffee, and rubber, so that economic growth in the rapidly growing city. This causes the station received an award from the city government in the form of the monument is right in front of the station, which is on the platform of the south (South Station Road). At that time, the monument is lit by 1,000 lanterns draft Ir EH De Roo. The monument has been replaced by a monument replica steam locomotive series TC 1008. In 1990, was built north of the platform that finally made the front of the station on Jalan Kebon Kawung



In Indonesian

Stasiun Bandung atau Stasiun Hall (kode: BD), adalah stasiun utama kereta api di Kota Bandung. Stasiun berketinggian +709 m dpl menjadi batas antara Kelurahan Pasirkaliki dan Kebonjeruk. Stasiun Hall sebelumnya hanya memiliki satu buah stasiun, setelah ada renovasi oleh pemerintah Kota Bandung maka Stasiun Hall sekarang terbagi menjadi dua bagian walaupun tetap bersatu.

Stasiun Hall sendiri selain terkenal sebagai stasiun kereta api di kota Bandung, ia juga terkenal sebagai terminal angkutan kota. Disebabkan oleh banyaknya angkot yang menuju Stasiun Hall maka secara otomatis ia menjadi terkenal di kota Bandung dengan predikat "terminal angkot" selain stasiun kereta api.

Stasiun Hall berlokasi di Jalan Kebon Kawung.

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) karangan Haryoto Kunto, ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga dan pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Sesaat setelah peresmian jalur Bandung-Surabaya (1 November 1894), para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suikerplanters) menyewa gerbong kereta menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya tahun 1896.[1]

Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali, kemudian setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citeureup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).[1]

Pada saat peresmian Stasiun Bandung, surat kabar Belanda saat itu, Javabode, menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama 2 hari berturut-turut. Dulunya, kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti kina, teh, kopi, dan karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat. Hal ini menyebabkan stasiun ini mendapat penghargaan dari pemerintah kota berupa monumen yang berada tepat di depan stasiun, yaitu di peron selatan (Jalan Stasiun Selatan). Saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008. Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More